Penyebab Umum Kerusakan Shackle dan Dampaknya pada Operasi Angkat

Dalam dunia rigging dan lifting, shackle adalah komponen penyambung yang paling sering digunakan. Meskipun ukurannya relatif kecil dibandingkan beban yang diangkat, kegagalan pada satu shackle dapat mengakibatkan kecelakaan fatal, kerusakan aset, hingga terhentinya operasional proyek.

Sebagai praktisi K3, memahami mengapa shackle bisa rusak bukan hanya soal teknis, tetapi soal manajemen risiko yang fundamental.

5 Penyebab Umum Kerusakan Shackle

Berdasarkan investigasi lapangan dan standar keamanan angkat, berikut adalah faktor utama yang sering menyebabkan kerusakan pada shackle:

1. Overloading (Beban Berlebih)

Penyebab paling klasik namun paling sering terjadi. Memaksa shackle bekerja melampaui kapasitas Working Load Limit (WLL) akan menyebabkan deformasi permanen.

  • Tanda: Peregangan pada bagian badan (body) atau pin yang melengkung.

2. Point Loading (Beban Terpusat)

Shackle dirancang untuk menerima beban secara merata pada bagian tengah bow (lengkungan). Jika beban bertumpu hanya pada satu titik atau pada posisi miring yang tidak sesuai desain, shackle akan mengalami tegangan yang tidak seimbang.

  • Risiko: Retakan rambut (hairline cracks) yang sulit terlihat mata telanjang.

3. Penggunaan Pin yang Tidak Sesuai

Sering ditemukan di lapangan penggunaan baut biasa atau pin dari shackle lain untuk menggantikan pin asli yang hilang. Ini adalah pelanggaran serius dalam K3.

  • Fakta: Pin shackle dirancang khusus berpasangan dengan unit shacklenya. Mengganti pin dengan material yang tidak standar akan membuat kekuatan geser (shear strength) menurun drastis.

4. Korosi dan Faktor Lingkungan

Paparan zat kimia, air laut, atau suhu ekstrem dalam jangka panjang akan mengikis material baja shackle.

  • Dampak: Pengurangan diameter material yang secara otomatis menurunkan nilai WLL secara signifikan.

5. Side Loading (Beban Samping)

Shackle tipe D (Dee Shackle) sama sekali tidak dirancang untuk beban samping. Jika dipaksakan, body akan terpuntir dan kehilangan integritas strukturnya.

Dampak pada Operasi Angkat

Jika kerusakan-kerusakan di atas diabaikan, dampaknya tidak hanya terbatas pada alat itu sendiri:

  1. Kegagalan Angkat (Lifting Failure): Beban jatuh secara tiba-tiba yang membahayakan nyawa pekerja di bawahnya (line of fire).
  2. Kerusakan Aset: Kerugian finansial akibat hancurnya material yang diangkat atau rusaknya mesin-mesin di sekitar area angkat.
  3. Hambatan Operasional (Downtime): Proses investigasi kecelakaan akan menghentikan seluruh pekerjaan proyek selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.
  4. Konsekuensi Hukum: Pelanggaran terhadap Permenaker No. 8 Tahun 2020 tentang Pesawat Angkat dan Pesawat Angkut dapat mengakibatkan sanksi berat bagi perusahaan dan penanggung jawab K3.

Pentingnya Riksa Uji dan Inspeksi Rutin

Mengapa Perusahaan Harus Melakukan Ketiganya? (Inspeksi, Pemeriksaan, dan Pengujian)

Mengabaikan salah satu dari ketiga elemen ini akan menciptakan celah dalam sistem perlindungan pekerja. Inspeksi harian mungkin memastikan shackle tampak bersih, namun hanya Pengujian (seperti Magnetic Particle Test atau Load Test) yang bisa menjamin tidak ada retakan internal yang siap memicu patahan saat menerima beban maksimal.

Sesuai dengan PP No. 50 Tahun 2012, perusahaan wajib melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja K3 secara berkelanjutan. Namun, lebih dari sekadar pemenuhan kewajiban hukum (compliance), sinkronisasi antara Inspeksi harian oleh Rigger dan Pengujian berkala oleh Ahli K3 Spesialis adalah strategi mitigasi risiko yang menentukan keberlangsungan bisnis (Business Continuity).

Tanpa inspeksi yang disiplin, shackle yang cacat akan terus digunakan. Dan tanpa pengujian yang tersertifikasi, perusahaan sejatinya sedang “berjudi” dengan nyawa pekerja. Kegagalan dalam memahami porsi masing-masing elemen ini sering kali menjadi celah terjadinya fatality yang berujung pada sanksi pidana dan rusaknya reputasi perusahaan.Jika monkeypox menyebar di tempat kerja, itu dapat sangat membahayakan kesehatan pekerja dan operasional perusahaan. Oleh karena itu, untuk melindungi pekerja dari risiko infeksi, tindakan pencegahan yang tepat harus diambil. Risiko penyebaran virus di tempat kerja dapat diminimalkan dengan edukasi, kebijakan yang tepat, dan praktik kebersihan yang baik.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *